Kamis, 07 Mei 2020

Resume Materi Kuliah Belajar Menulis, 5 Mei 2020 Menulis di dalam kesibukan



Resume Materi Kuliah, 5 Mei 2020 (pukul 13.00-15.00)

Menulis di dalam kesibukan
Pemateri: Bapak Emcho
 oleh : Santi Jayapura




 Kuliah diawali dengan perkenalan yaitu disebutkan bahwa pemateri bernama lengkap Much. Khoiri, dosen dan penulis 42 buku dari Unesa Surabaya, yang menulis sejak tahun 1986 dan penyampaian profil beliau.
Materi diberikan melalui audio dan power point yang dimoderatori oleh Om Jay.
Dimulai dari penjelasan tentang judul yaitu “Sopo Ora Sibuk” atau “Siapa yang tidak sibuk”. Diperjelas dengan gambar-gambar tentang kesibukan orang. Mulai dari orang muda hingga nenek yang semuanya sibuk dengan kesibukannya masing- masing. Libur pun juga sibuk. Orang biasa sampai pejabat pun sibuk, banyak kerja, main pun sibuk dengan mainannya sendiri, hingga ada buku yang berjudul “Tuhan, maaf saya sibuk”. Manusia itu adalah subjek. Tanpa kerja, subjek hanyalah entitas yang mati, tanpa makna kontekstualitasnya. Saya jika tidak diikuti kata kerja maka hanya sebagai “saya”, saya jika tidak melakukan kerja maka tidak ada gunanya. Dalam konteks menulis, demikian juga, sudah tepatkah jika tidak melakukan menulis dengan alasan sibuk? Harap dipertimbangkan lagi.
Yang penting sebenarnya bukan perkara sibuknya sendiri. Dibalik kesibukan ada kelonggaran atau kesempatan, dibalik kesulitan ada kemudahan. Bagaimana kita bisa memenej kesibukan itu sendiri, bagaimana sikap kita terhadap sibuk itu sendiri. Jika kita menyikapinya dengan positif maka akan mengahsilkan aksi yang positif, sebaliknya jika sikap kita negatif maka hasilnya pun negatif bahkan tidak menghasilkan apa-apa.yang diperlukan dalam kegiatan menulis tentunya sikap yang positif. Kita tidak boleh menyerah dengan kesibukan, kita harus memenej kesibukan itu sendiri. Harus menjadi kekuatan kita sendiri. Penulis sejati akan mencurahkan daya dan pikirannya untuk menghasilkan tulisan. Andaikata ia tidak sedang menulis maka akan dipikirkannya apa yang akan ditulis dan tidak membiarkan waktunya untuk tidak menulis ada waktu istimewa untuk menulis. Menulis sama wajibnya dengan membaca.
Mengapa Harus Menulis?
Ada buku yang isinya mengungkapkan “ When you speak your words echo only across the room, or down the hall. But when you writw, your wors echo downthe ages, bud gardener, artinya ketika kau bicara kata katamu hanya menggema melintas ruangan atau sampai  aula tetapi kalao engkau menulis, kata katamu akan menggema sampai bertahun-tahun atau berabad-abad. Bahasa sederhana nya demikina, apa yang kita angankan akan lenyap apa yang kita katakan akan musnah apa yang kita lakukan tak akan tersisa kecuali dituliskan ia akan abadi dan menyejarah dalam hidup kita. Pramoedya Ananta mengungkapkan sebagaiberikut” Orang boleh pandai setinggi langit, tetapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah keabadian dalam sejarah”. Budi Darma (sastrawan) mengatakan bahwa begitu seorang pengarang mati, tugasnya sebagai pengarang tidak dapat diambil alih oleh orang lain. Sebaliknya, jika dekan, camat, mantri, polisi, dalam waktu singkat akan ada orang yang dapat dan mampu menggantikannya. Betapa pentingnya alsan perlunya menulis dan perlu diperjuangkan.
Mendidik Diri Menulis
Harus melakukan mendidik terhadap diri sendiri, supaya tahu ada tugas yang harus diselesaikan, berani menegakkan reward dan punishment secara adil. Mendidik diri menulis bukan hanya membuat diri kompeten di bidang menulis, melainkan juga berani menegakkan prinsip reward and punishment. Jika siswa tidak melakukan tugas maka mendapat punishment yang bagaimana maka harus adil dengan diri sendiri ketika tidak melakukan menulis maka punishment nya apa, begitu pula sebaliknya jika melakukan lebih dari target maka diberikan reward. Mendidik diri penting diterapkan. Jangan hanya bisa mendidik orang lain tetapi harus bisa mendidik diri sendiri.
Menulis itu Berkomunikasi
Menulis harus berkomunikasi bukan hanya berekspresi. Kalau hanya berekspresi itu sesuka kita, tetapi kita perlu berasumsi bahwa menulis itu berkomunikasi artinya menganggap kita berhadapan dengan orang yang kita ajak berkomunikasi yaitu pembaca. Ada ungkapan menarik dari Plato Wise men speak because they have something to say, Fool because they have to say something artinya orang bijak itu bicara karena punya sesuatu untuk dikatakan, orang bodoh karena harus mengatakan sesuatu, bisa saja tidak ada sesuatu yang disampaikan jadi asal omong saja.beda dengan orang bijak,itu diam tapi kalau ada yang harus disampaikan maka dia sampaikan. Demikian juga menulis. Tidak sekedar menulis tetapi ada yang disampaikan baru kita menulis, mengomunikasikan gagasan, pengalaman dll kepada pembaca. Kita asumsikan berhadapan dengan pembaca, maka harus ada sudut pandang  mengguanakan kata saya, aku, anda, saudara, pembaca sekalian dll. Materi tullisan harus selaras dengan sudience, harua tahu apa yang dibutuhkan. Pengorganisasian tulisan, harus diperhitungkan misalnya paragraf diatur jangan terlalu panjang, hubungan antar paragaraf dll. Bahasa harus komunikatif sesuai genre tulisan. Tulisan ilmiah, bahasanya ilmiah, untuk umum bahsanya semi populer atau semi ilmiah. ketika berkomunikasi kita menyampaikan pesan pakailah bahasa yang enak sehingga pesan tersampaikan kepada pembaca.
Tujuhbelas Strategi Menulis Jitu
Dalam menyiasati kesibukan ada 17 strategi yang dapat digunakan antara lain Tetapkan niat menulis, rajinlah membaca, gunkan alat perekan gagasan, kobarkan inspirasi menulis, tentukan waktu utama, untuk pemula menulis bebas, menulis di dalam hati, menulis di waktu utama, manfaatkan waktu luang, menulis yang dialami, menulis yang dirasakan, menulis selaras minat dan pekerjaan, menulis dengan riang, menulis yang bnayak, read batter, write faster, buatlah motto yang dahsyat,menulis dengan doa




Kesimpulan/pesan
Kesibukan selalu ada karena hakekat kehidupan adalah kesibukan yang penting bagaimana kita menyiasati kesibukan itu sehingga bisa menunaikan kewajiban menulis. Lakukan diantara tujuhbelas strategi menulis.




           



2 komentar: